Berikut profil Ismael Bennacer, regista andalan AC Milan yang dalam dua musim terakhir namanya menyeruak ke permukaan Liga Italia. Boleh dikatakan, selepas tidak ada Andrea Pirlo, AC Milan tak memiliki kembali Regista yang benar benar mumpuni. Perlu beberapa musim kemudian yang mana akhirnya Rossoneri kembali memiliki Regista yang mumpuni.

Pemain yang berposisi Regista layak disematkan kepada nama Ismael Bennacer. Walau belum memberi gelar atau berada di level yang sama, harapan untuk untuk mendapat regista berkelas kini muncul di Milan. Mencuatnya nama Ismael Bennacer menjadi jawaban bagi Rossoneri.

Pada musim 2019/2020, pemain 23 tahun memainkan peran penting di lini tengah. Lantas apa sebenarnya pengertian Regista secara umum? Regista berasal dari bahasa Italia yang berarti sutradara atau direktur. Di man secara bahasa sepakbola, sang pemain memiliki tugas untuk mendikte maupun mengatur irama permainan,.

Pemain di posisi ini bukan pemain yang menyisir dan menjelajah seluruh sudut lapangan tetapi perannya begitu penting sebagai penentu pertama serangan tim. Istilah lain untuk menyebut regista adalah deep lying playmaker . Bahkan secara keseluruhan, Regista dianggap memiliki peran paling vital dalam sepakbola Modern. Namun siapa sangka, Isamel Bennacer yang dianggap sebagai Regista nbaru milik AC Milan pernah disia siakan oleh Arsenal.

Saat itu Bennacer memang kesulitan untuk menembus skuat utama dan baru menjadi bagian dari Arsenal U23. Hingga 2017, ia minim sekali mendapatkan menit bermain kala itu. Awal perubahan kariernya ia mulai saat memilih untuk mengambil langkah yang tergolong berani, yakni meninggalkan Meriam London pada bursa transfer musim panas 2017 silam.

Ia memilih mengambil langkah untuk hengkang dan bergabung ke tim Empoli. Pilihan tersebut terbayar lunas oleh Bennacer dalam dua musim selanjutnya. Tepatnya pada tahun 2019 ia dilirik oleh AC Milan dan resmi bergabung ke tim asal Milano itu. Mantan pemain Arsenal itu menandai musim pertamanya di AC Milan dengan memainkan 31 laga di Serie A, 28 kali sebagai pemain inti.

Bennacer pun tak bisa melupakan bagaimana dirinya mengambil keputusan yang tergolong berani kala itu. Mengingat usianya yang masih muda sekaligus masih memiliki kontrak bersama klub London Utara selama tiga tahun. "Saya memiliki tiga tahun tersisa dalam kesepakatan saya tetapi saya ingin bermain dan selain itu, mereka tidak menentang penjualan saya, jadi saya pergi," tukasnya seperti yang dikutip dari laman Football London.

Ia pun memberikan penilaian atas posisinya yang memiliki kemiripan dengan mantan maestro lini tengah AC Milan, Andrea Pirlo. "Saya suka segalanya tentang peran ini, karena Anda adalah jantung dari segalanya." Diakui oleh Bannacer bahwa dirinya sangat menyukai peran barunya sebagai regista di lini tengah Rossoneri.

"Ini adalah tahun kedua saya bermain di Italia sebagai regista." Bennacer pun menyebutkan dua nama pemain yang dijadikan sebagai panutan untuk dapat bermain dengan baik di posisi tersebut. "Saya masih bekerja untuk itu. Saya merasa bisa berkembang lebih baik. Saya masih perlu banyak belajar. Saya banyak menonton Marco Verratti dan Thiago Alcantara. Thiago sangat, sangat baik," imbuhnya.

Mantan pemain Arsenal itu pun menyadari benar bahwa tugasnya sebagai regista benar benar sangat vital. Ia tidak boleh kehilangan penguasaan bola sama sekali, khususnya saat melakukan ball possession di area pertahanannya sendiri. "Saya tidak boleh sering kehilangan bola, nol. Untuk bisa melakukannya, saya harus konsentrasi setiap kali menerima bola. Saya harus membaca permainan, melihat lebih dulu, dan lebih awal," pungkas Ismael Bennacer.

Lantas yang menjadi pertanyaan, siapa sosok pemain yang pernah disia siakan Arsenal, namun mulai berkembang bersama Empoli itu? Ismael Bennacer lahir di Arles, Prancis, 23 tahun lalu. Dia sempat memperkuat Timnas Prancis U 19 dalam 11 pertandingan pada 2015 hingga 2016. Namun, dia lebih memilih memperkuat Aljazair.

Keputusan bermain untuk Timnas Aljazair tidak salah. Pada 2019, dia membawa Algeria juara Piala Afrika. Tak hanya itu, mantan pemain Tours itu juga terpilih sebagai pemain terbaik di Piala Afrika 2019. Sejumlah tim pernah menggunakan jasa pemain kelahiran Prancis itu, mulai dari Tours, Arsenal, Empoli, Arles, dan terakhir ialah AC Milan.

RELATED ARTICLES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *